Sosok Raden Ajeng Kartini kembali dihadirkan dalam balutan kebaya dan semangat para siswi MI Darun Najah II dalam memperingati Hari Kartini Selasa (21/4/2016) di halaman madrasah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswi yang berjumlah 275 siswi.
Apel Hari Kartini menjadi pembuka yang sarat makna, dengan Eni Kusrini sebagai pembina apel. Dalam amanatnya, tersirat pesan lembut namun kuat: bahwa menjadi Kartini masa kini bukan hanya soal penampilan, melainkan keberanian untuk belajar, menjaga diri, dan berkarya. Kepala MI Darun Najah II Majidatul Himmah menyampaikan “ Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan semangat Kartini agar siswi tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, peduli kesehatan dan kreatif’, ujarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi kesehatan untuk siswi kelas 3 – 6, panitia menghadirkan narasumber dr. Kurnia Alisaputri, Sp., PD., FINASIM, seorang dokter spesialis penyakit dalam dan dosen FIKKIA Universitas Airlangga, sosok wanita yang sukses di usia muda. Beliau memberikan Edukasi tentang cara merawat organ wanita dan menekankan kepada siswi pentingnya merawat organ kewanitaan sejak dini. Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, sebuah langkah awal menuju perempuan yang cinta pada diri sendiri, sehat, dan bermartabat.
Di sudut lain, siswi kelas 1 dan 2 sedang belajar menyetrika dan melipat pakaian dipandu oleh Ika Rahmawati guru kelas 1. Kegiatan yang sederhana namun penting untuk dimiliki wanita. Tangan-tangan kecil mulai belajar menyetrika dan melipat baju, kegiatan sederhana yang mengajarkan kerapian, tanggung jawab, dan kemandirian.
Di akhir kegiatan, siswi membuat prakarya dengan membentuk bangun tiga dimensi bertema Kartini dari bahan kertas bermotif batik yang dihias warna-warni dengan crayon. Kegiatan ini bukan sekadar karya, tetapi cermin dari cara mereka memaknai sosok perempuan pejuang yang menjunjung emansipasi wanita.
Hari itu, Kartini tidak hanya dikenang dalam kata, tetapi tumbuh dalam tindakan. Ia hidup dalam keberanian belajar, dalam kesadaran menjaga diri, dalam kerapian yang dilatih, dan dalam karya yang diciptakan. Dari halaman madrasah, sebuah pesan mengalir bahwa setiap perempuan keil memiliki cahaya Kartini dalam dirinya, tinggal bagaimana ia merawatnya, agar kelak bersinar terang bagi dunia.(Eni)
